A A A
Home Trading Berita Komoditi Harga Emas Diperkirakan Masih Akan Naik

Harga Emas Diperkirakan Masih Akan Naik

PDFCetak

GOLD-USDEmas bergerak bullish dan mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Jumat akhir pekan kemarin. Meski minat investor pada aset beresiko masih tinggi pasca kesepakatan dagang AS-China Fase Satu resmi diteken, tetapi penguatan emas secara teknikal masih didukung oleh bias intraday yang terlihat bullish.

Spot Gold XAU/USD naik setinggi 1.561 pada jum'at sebelum akhirnya ditutup lebih rendah di 1.557. Saat berita ini ditulis, XAU/USD masih stabil bergerak dikisaran 1.558.

Para pengamat dan pelaku pasar mengharapkan harga emas terus melambung pada perdagangan di pekan ini, mengikuti kenaikan minggu sebelumnya.

Dikutip dari Kitco, Senin (20/1/2020), 13 analis mengikuti survei yang dijalankan Kitco. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 analis atau 77 persen memperkirakan harga emas akan naik. Tak satupun analis yang memperkirakan harga emas akan jatuh. sedangkan tiga analis atau 23 persen memperkirakan harga emas akan datar.

Menurut analis, peluang harga emas untuk naik ke atas level US$1.600 per troy ounce pada tahun ini masih terbuka seiring dengan masih banyaknya ketidakpastian yang berada di pasar, karena negosiasi AS dan China untuk fase dua masih akan berlangsung.

Tidak hanya dengan China, juga negosiasi dagang AS dengan Eropa, UK dengan Eropa dan lain-lain dimana negosiasi yang berujung pada kenaikan tarif ini diperkirakan memicu perlambatan ekonomi global.

Setiap sinyal adanya perlambatan ekonomi global umumnya akan menjadi sentimen positif bagi emas karena naiknya permintaan investor terhadap aset lindung nilai seperti emas.

Selain itu, kebijakan moneter bank sentral yang masih longgar karena mengantisipasi pelambatan ekonomi global juga membantu kenaikan harga emas karena pasar cenderung berinvestasi ke yield yang lebih tinggi.

Kepala Penelitian Komoditas Geojit Financial Services Hareesh V mengatakan bahwa emas berhasil menguat pada perdagangan akhir pekan setelah data pertumbuhan ekonomi China melambat ke level terlemah dalam hampir 30 tahun pada 2019.

Padahal, sentimen untuk mengumpulkan aset berisiko tengah membaik setelah AS dan China berhasil menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama yang seharusnya melemahkan emas.

“Meskipun data produksi dan penjualan ritel China membaik, ternyata itu tidak menunjukkan pemulihan yang signifikan dan masih ada kekhawatiran pasar tentang dampak perang dagang sehingga pedagang emas tengah menunggu indikator atau berita ekonomi yang lebih jelas,” ujar Hareesh seperti dikutip dari Bloomberg./R

Follow us on Twitter to get more news updates.
 
© 1999-2020 PT Gatra Mega Berjangka (Money Mall). Hak cipta dilindungi Undang-Undang.