A A A
Home Trading Berita Komoditi Emas Berlanjut Melemah, Karena Kembalinya Minat Risiko

Emas Berlanjut Melemah, Karena Kembalinya Minat Risiko

PDFCetak

GOLD.4Harga emas turun ke level terendah dua minggu pada hari Senin kemarin, menembus di bawah level support kunci $ 1.500 setelah kenaikan imbal hasil obligasi A.S. mendorong investor ke arah saham, minyak dan aset berisiko lainnya.

Menghijaunya pasar ekuitas dan berkurangnya pembelian emas oleh bank-bank sentral, menekan harga emas sampai ke level psikologis. Namun, penurunan ini dinilai hanya jangka pendek.

Spot gold sempat turun serendah 1.497 kemarin, berlanjut hingga pagi ini yang telah mencapai level terendah harian sementara di 1.486.

Emas berjangka untuk pengiriman Desember ditutup turun $ 4,40, atau 0,3% pada $ 1.511,10 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange.
Dalam sesi Rabu pekan lalu, emas mencapai tertinggi lebih dari enam tahun $ 1.556

Kemunduran oleh aset safe-haven terlihat di pasar obligasi, di mana yield Treasury AS 30-tahun naik menjadi 2,12%, tertinggi sejak 23 Agustus. Sementara imbal hasil yang lebih pendek juga naik, bentuk kurva yield tetap jauh sama, tidak mengirim sinyal baru tentang kemungkinan atau resesi.

Selain karena pasar ekuitas, melemahnya harga emas ditengarai karena mulai surutnya aksi beli. Menurut Investing.com, bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa arus beli emas dari bank-bank sentral, khususnya bank sentral China, mulai mengecil. Padahal, reli harga emas yang terjadi sebelumnya, juga mendapat kontribusi dari aksi beli tersebut.

Bank sentral China menaikkan kepemilikan emas menjadi 62.45 juta ons pada bulan Agustus 2019, dari 62.26 juta ons di bulan sebelumnya. Namun demikian, rata-rata pembelian hanya 5.91 ton emas, berkurang dua kali lipat dari rata-rata 11.75 ton di bulan-bulan sebelumnya sejak Desember.

Minat risiko juga bangkit akibat pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang mengesampingkan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi. Powell juga menuturkan bahwa bank sentral akan bertindak dengan "sesuai', untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS. Pernyataan Powell tersebut disambut dengan kenaikan yield obligasi US Treasury ke 2.12 persen awal pekan ini.

Meski demikian, para analis memandang penurunan harga emas kali ini sebagai sebuah ancang-ancang untuk rebound. Benjamin Lu, analis dari Philip Futures mengatakan bahwa minat risiko global, memang melemahkan sejumlah aset safe haven termasuk emas, untuk sementara.

"Kita sedang melihat pelemahan harga emas dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, pergerakan harga emas masih bullish," kata Lu./R

Follow us on Twitter to get more news updates.
 
© 1999-2019 PT Gatra Mega Berjangka (Money Mall). Hak cipta dilindungi Undang-Undang.