A A A
Home Trading Berita Komoditi Harga Emas Melonjak, Diuntungkan oleh Konflik Dagang AS-China

Harga Emas Melonjak, Diuntungkan oleh Konflik Dagang AS-China

PDFCetak

GOLD.4Harga emas melonjak pesat hingga menembus level 1300 pada perdagangan Senin kemarin. Emas bergerak menguat karena para investor beralih ke aset safe haven disaat gejolak geo-politik semakin memanas.

China dikabarkan akan menaikkan bea impor untuk barang-barang AS sebagai langkah balasan terhadap keputusan AS sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan tensi perang dagang semakin memanas dan beresiko menyebabkan ketidakstabilan ekonomi global dan memicu para investor beralih ke aset safe haven dan membuat emas berjangka pengiriman Juni ditutup menguat sebesar $14.40 atau sekitar 1.1% di harga penutupan $1300.80 per ounce.

Sementara Spot Gold XAU/USD semalam juga naik signifikan setinggi 1.301 yang merupakan puncak tertinggi sejak 12 April.

Emas selaku salah satu safe haven memang seringkali dijadikan pelarian pelaku pasar kala keadaan ekonomi dan politik global sedang penuh ketidakpastian.

Pemerintah AS telah secara resmi memberlakukan tarif baru sebesar 25% untuk produk-produk China senilai US$ 200 miliar mulai hari Jumat (10/5/2019) mulai pukul 00:01 waktu setempat.

Padahal pada saat itu, Wakil Perdana Menteri China, Liu He sedang berada di Washington untuk melakukan negosiasi tatap muka dengan delegasi AS yang dipimpin oleh Perwakilan Dagang, Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan, Steven Mnuchin.

Hingga akhir pekan berlalu, ternyata tarif tersebut tidak kunjung dihapuskan. Artinya perundingan yang dilakukan sepanjang Kamis-Jumat (9-10/5/2019) belum berhasil menelurkan kesepakatan antara kedua negara.

Hari Senin (13/5/2019) China mengumumkan kenaikan tarif untuk produk-produk AS senilai US$ 60 miliar yang akan mulai berlaku bulan Juni mendatang. Sebanyak 5.140 jenis produk akan mengalami kenaikan tarif impor bervariasi, mulai dari 5% hingga 25% mulai 1 Juni 2019, berdasarkan keterangan Menteri Keuangan China, mengutip Reuters.

Dengan begitu babak baru perang dagang telah resmi dimulai. Fenomena saling lempar bea impor seperti yang terjadi pada tahun 2018 pun kembali terjadi. Dampaknya pun bisa jadi akan mirip.

Rantai pasokan global (sekali lagi) akan terhambat. Aktivitas perekonomian global lesu dan menyebabkan perlambatan ekonomi (dari yang sudah lambat).

Bahkan bukan hanya itu, minggu lalu Presiden AS, Donald Trump dikabarkan telah memerintahkan proses peningkatan bea impor sebesar 25% untuk produk China lain yang senilai US$ 325 miliar.

Bila perang tarif impor semakin memanas, masa depan ekonomi global menjadi sangat buram. Risiko koreksi nilai aset menjadi sangat besar, membuat investor enggan masuk ke instrumen berisiko seperti saham./R

Follow us on Twitter to get more news updates.
 
© 1999-2019 PT Gatra Mega Berjangka (Money Mall). Hak cipta dilindungi Undang-Undang.