A A A
Home Trading Berita Komoditi Emas Masih Berpotensi Naik Terkait Konflik Dagang AS-China

Emas Masih Berpotensi Naik Terkait Konflik Dagang AS-China

PDFCetak

GOLD.10Logam mulia emas bergerak bullish dan mencatatkan sedikit penguatan pada penutupan Jumat kemarin. Reli penguatan emas masih dilatarbelakangi oleh polemik perang dagang AS-China.

Pagi tadi Harga emas menanjak lagi di awal pekan ini, harga emas untuk pengiriman Juni 2019 di Commodity Exchange naik 0,12% ke US$ 1.289 per ons troi ketimbang harga akhir pekan lalu pada US$ 1.287,4o per ons troi.

Sementara emas Spot naik setinggi 1.288 pagi ini sebelum akhirnya terkoreksi dan turun bergerak dikisaran 1.283 saat berita ini ditulis.

Harga emas menguat dalam tiga hari perdagangan berturut-turut seiring memanasnya negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Dalam sepekan terakhir, harga emas menguat 0,40%.

"Harga emas masih akan naik dalam jangka pendek hingga ada resolusi konkret atas berlanjutnya tensi perdagangan antara AS dan China," kata Rob Lutts, chief investment officer Cabot Wealth Management kepada Reuters.

Indeks dollar yang turun dalam empat hari perdagangan berturut-turut hari ini pun turut menopang kenaikan harga emas. "Harga emas juga menanjak naik karena ketidakstabilan di pasar saham,"kata Edward Meir, analis FCStone.

Amerika Serikat memutuskan untuk menaikkan pajak impor (dari 10% menjadi 25%) atas barang-barang China senilai USD200 miliar, karena China dianggap telah mengingkari komitmen yang dibuat dalam negosiasi sebelumnya. Menanggapi hal ini, pemerintah China mengancam akan melakukan tindakan balasan. Akibatnya, para investor pun berbondong-bondong beralih ke aset save haven emas.

Mengutip Reuters, China disebutkan tidak lagi berkomitmen untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual, pemaksaan transfer teknologi, kebijakan persaingan bebas, akses terhadap sektor keuangan, dan manipulasi kurs.

Memang, belakangan Trump mengatakan bahwa negosiasi dengan China masih akan berlanjut di masa depan.

Namun Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin menyebut bahwa hingga saat ini tidak ada agenda negosiasi dagang dengan China yang dijadwalkan, mengutip Reuters.

Menyikapi langkah AS, reaksi pemerintah China pun mudah ditebak. Dalam sebuah rekaman video, Wakil Perdana Menteri China, Liu He mengatakan bahwa pihaknya tidak punya pilihan selain membalas dengan tindakan serupa. Artinya China juga akan memberlakukan bea impor baru terhadap produk-produk asal AS.

Dengan begini, kondisi perekonomian global makin tak pasti. Bila skenario perang tarif kembali berkecamuk seperti yang terjadi pada tahun lalu, maka dampaknya pun mirip, atau bahkan lebih parah.

Rantai pasokan global akan melambat dan membuat gairah perekonomian menjadi lesu. Alhasil risiko koreksi nilai aset pun meningkat.
Dalam kesempatan tersebut emas, sebagai safe haven, makin diminati investor karena nilainya yang relatif lebih stabil.

Akan tetapi, dalam kasus ini, harga emas juga terbebani akibat permintaan yang berkurang dari China, mengutip Reuters. Adanya ancaman perlambatan ekonomi yang hebat membuat konsumen-konsumen emas di China cenderung menahan pembelian.

Apalagi hingga kuartal I-2019, pertumbuhan ekonomi China masih sebesar 6,4% YoY, yang merupakan laju paling lambat sejak 1990.

Mengingat China merupakan negara konsumen emas yang terbesar di dunia, maka akan sangat mempengaruhi keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) di pasar global./R

Follow us on Twitter to get more news updates.
 
© 1999-2019 PT Gatra Mega Berjangka (Money Mall). Hak cipta dilindungi Undang-Undang.